Contoh Naskah Drama (Bahasa Indonesia)

Naskah Drama

Ketika Mendung Sirna

by Suci Lestari

Tokoh-tokoh

  1. 1.      Pak Sukma

Ciri fisik          : Wali kelas, usia 40 tahun.

Watak              : Baik, disiplin, dan tegas.

  1. 2.      Febrianto

Ciri fisik          : Usia 14 tahun.

Watak              : Baik dan penyabar.

  1. 3.      Doni

Ciri fisik          : Usia 14 tahun.

Watak              : Tertutup.

  1. 4.      Hendra

Ciri fisiik         : Usia 14 tahun.

Watak               : Pemberani.

  1. 5.      Didi

Ciri fisik          : Usia 13 tahun.

Watak               : Baik.

Setting : Di suatu sekolah menengah pertama tepatnya di dalam kelas yang terdapat bangku dan meja yang tersusun rapi.

Adegan 1

Pada suatu hari, teman-teman Febrianto sedang asyik bercanda di dalam kelas. Namun entah mengapa, keceriaan itu menyebabkan Doni merasa tersinggung dan langsung membentak mereka. Akibatnya terjadilah pertengkaran di dalam kelas. Melihat kejadian itu Febrianto langsung melarai dan melarai dan memberi pengertian kepada mereka . Alhamdulillah, mereka pun segera menyadari kesalahan dan langsung berdamai.

Beberapa saat kemudian, suasana kelas sudah menjadi tenamg, dari arah pintu kelas terdengar sesoorang mengucapkan salam, “ Assalamualaikum! “ Mereka semua lansung menoleh ke arah pintu dan menjawab, “ Waalaikum salam! “ Rupanya yang datang adalah Pak Sukma, wali kelas mereka.

Pak Sukma      : ( Duduk sejenak di kursi ) Bagaimana kabar kalian sekarang?

Mereka            : Baik-baik saja, Pak.

Pak Sukma      : ( Mendekati Febrianto ) Bagaimana dengan engkau, Feb?

Febrianto         : Alhamdulillah baik, Pak.

Pak Sukma      : Mana buku absennya? Bapak ingin melihat daftar kehadiran kalian!

Febrianto         : ( Mengambil buku absen, kemudian menyerahkannya kepada Pak                               Sukma ) Ini buku absennya, Pak.

Pak Sukma      : ( Mulai meneliti kehadiran muridnya satu per satu ) Wah, wah, wah, mengapa akhir-akhir ini kehadiranmu sangat kurang, Doni?

( Mendengar pertanyaan Pak Sukma , Doni diam saja. Demikian pula teman-temannya.

Tak satu pun yang berani, termasuk Febrianto. Melihat sikap mereka, Pak Sukma

menjadi keheranan sebelumnya sikap meraka tidak seperti itu )

Pak Sukma      : Anak-anak, jika ada masalah, silahkan sampaikan kepada bapak. Mungkin bapak bias membantunya. Sekarang bapak mengajak kalian semua untuk mulai membuka lembaran baru dan ahri baru. Saat ini kalian sudah kelas tiga, berarti dua tahun sudah kalian berjuang. Perjuangan itu jangan sampai sia-sia. Sebentar lagi kalian akan memasuki caturwulan kedua bahkan ujian akhir.

( Mendengar kata-kata yang disampaikan Pak Sukma, mereka semua menjadi binggung )

Hendra            : ( Sambil mengangkat tangannya ) Maaf, Pak. Benar, kami semua memang telah berada di kelas tiga selama satu caturwulan. Tetapi menurut saya, hari ini adalah hari yang sama dengan hari-hari kemarin.

( Febrianto dan teman-temannya yang lain terkejut mendengar ucapan Hendra. Mereka

takut kalau Pak Sukma akan marah karena ucapannya dipoton seperti itu. Tetapi tidak

dengan demikian )

Pak Sukma      : ( Tersenyum ) Bagaimana, Hendra?

Hendra            : Ya …, hari ini tetap hari Senini, seperti Senuin minggu yang lalu atau lainnya.

Begitu kan, Pak?

Pak Sukma      : ( Tersenyum lagi ) Bagaimana pendapat kalian?

Mereka             : Saya kira begitu, Pak?

Mereka            : Hendra benar, Pak?

Pak Sukma      : Baiklah! Hendra tidak salah dan kalian pun betul, tetapi tidak sepenuhnya.

( Para siswa terdiam, mereka belum juga dapat mengerti penjelasan Pak Sukma )

Pak Sukma      : Memang benar, hari ini adalah hari Senin. Namanya tetap tetap seperti minggu yang lalu ataupun yang akan dating. Tetapi coba kalian renungkan bahwa setiap tiba hari yang baru, kita biasanya akan mendapat pengalaman yang baru pula.

( Febrianto dan teman-temannya masih memikirkan apa yang dimaksud oloh Pak Sukma.

Lebih-lebih lagi saat Pak Sukma menatap mereka satu per satu )

Pak Sukma      : Apa yang telah kamu kerjakan pada hari Senin yang lalu, Didi?

Didi                 : ( Terkejut, lalu berpikir sejenak ) Waktu itu bertepatan dengan hari libur dan saya berada di kebun Paman seperti saat ini, Pak.

Pak Sukma      :  Nah, kalian dengar sendiri jawaban dari Didi, bukan? Itu saja sudah menunjukkan bahwa tiap hari merupakan hari yang baru. Namanya memang sama, tetapi apa yang kalian kejakan dan kalian peroleh senantiasa berlainan.

Karena itu, yang terpenting bagi kalian adalah bagaimana mengisi waktu yang terus berjalan. Karena waktu yang sudah lewat, hari yang sudah berlalu, tidak dapat diulang kembali. Kalau kalian lewatkan tanpa mengisinya dengan hal yang berarti dan bermanfaat, waktu akan hialang percuma.

Jadi jangan pernah menyia-nyiakannya. Tanamkan pada diri kalian bahwa besok harus merupakan hari yang lebih baik dari hari ini.

( Anak-anak diam sambil merenungkan nasihat Pak Sukma )

Adegan 2

Begitulah, hari pertama saat penataran, Pak Sukma telah menasihati mereka.

Setelah Pak Sukma meninggalkan kelas, situasi kelas menjadi sepi. Febrianto tak tahu,

apakah teman-temannya juga merenungkan nasihat Pas Sukma atau mereka merasa takut

pada Doni.

Dalam situasi sepi itu, Febrianto merasa was-was dan waspada ketika Doni

mendekatinya. Ia berfikir jangan-jangan Doni tidak senang padanya?

Tetapi, apa yang terjadi kemudian?

Doni                : Feb, aku minta maaaf padamu. Dari semua teman-teman di kelas ini hanya engkaulah yang sangat kusayangi dan kusegani. Engkau tak pernah menyinggung perasaan teman-teman, termasuk aku. Bahkan lebih banyak mengingatkan kami bila kami berbuat salah. Karena aku, kita semua mendapat teguran dari Pak Sukma. Sekali lagi maafkan aku ya, Feb.

Febrianto         : Terima kasih, Don. Aku pun merasa lega karenaengkau telah sadar. Tetapi engkau tidak sepenuhnya salah. Aku pun merasa bersalah padamu karena selama ini tak pernah lagi mengingatkanmu. Aku juga minta maaf kepadamu.

( Doni Cuma diam. Mendengarkan apa yang dikatakan Febrianto )

Febrianto         : Don, aku tahu ayah dan ibumu memiliki keinginan yang sama seperti ayah dan ibuku. Cuma kita berbeda. Kamu berasal dari keluarga yang mampu sedang aku adalah anak dari keluarga yang tak mampu. Namun demikian, aku tetap tegar menghadapinya.

( Doni Cuma diam saja lagi )

Febrianto         : Memang diantara kita terdapat perbedaan yang status social yang sangat mencolok. Akan tetapi, aku yakin engkau mau menerima kata-kataku. Kamu tentu tidak berniat untuk menghancurkan masa depanmu sendiri. Apa yang engkau lakukan selama ini pasti bertentangan dengan hati nuranimu. Doni, selama ini aku telah menganggapmu sebagai saudara kandung, namu ternyata engkau berusaha menjauh. Aku berfikir, mungkin perbedaan derajat keluarga kitalah penyebabnya. Atau ada yang hal-hal lain.

( Mendengar kata-kata Febrianto, Doni merasa menyesal )

Doni                : ( Memeluk Febrianto dan dengan tulus. Ia juga menangis ) Feb, memang kuakui kalau aku mulai menjauhimu. Ini semua karena ada masalah yang sangat sulit kupecahkan.

Febrianto         : Apa masalahmu?

Doni                : Sejak ibuku meninggal dan ayahku kawin lagi, pikiranku menjadi tidak menentu. Aku merasa kehilangan kasih saying. Bahkan secara terang-terangan ibu tiriku menganggapku anak nakal dan brengsek!

Febrianto         : Bukankah ibu tirimu sangat sayang kepadamu?

Doni                : Ya. Mulanya ia sangat sayang kepadaku, tetapi sekarang sudah berubah ( Denagn kesal )

Coba engkau bayangkan, Feb. Suatu hari, ketika ayah member hadiah ulang tahunku, ibu tirikusepertinya kurang senang. Itulah awal mula yang membuatku tidak senang kepadanya.

Febrianto         : ( Prihatin ) Apa tidak ada jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah kamu dan ibu tirimu.

Doni                : ( Cuma diam ) Hari berikutnya, ketika aku hendak berangkat ke sekolah dan minta uang jajan kepada ayah, dari kejauhan ibu tiriku langsung membentak. Dengan adanya kejadian itu, aku langsung berangkat ke sekolah tanpa membawa uang sepeser pun. Karena pikiranku kacau, aku tidak langsung ke sekolah. Kebetulan di jalanan aku bertemu teman-teman lama. Mereka memanggilku untuk bergabung. Dengan merekalah aku menghilangkan pikiran kacau itu. Namun setelah itu, apa yang terjadi? Tiba-tiba muncul patrol polosi dan langsung menangkap kami.

Febrianto         : Setelah ditangkap, bagaimana perasaanmu?

Doni                : Dengan perasaan yang lemas dan takut, aku meminta maaf. Aku juga berjanji tidak akan membolos lagi. Kata-kata tersebut kuucapkan berulang-ulang dihadapan Pak Polisi.

Namun Pak Polisi mengatakan, “ Tidak! Kalian harus kami tangkap “

Apapun alasanku, Pak Polisi tetap memeriksa kami satu per satu.

Febrianto         : Hasil pemeriksaannya bagaimana?

Doni                : Subhanallah, ternyata dari kantong beberapa temanku didapati obat-obatan terlarang.

Febrianto         : Lalu?

Doni                : Malam itu, kira-kira jam setenagh sebelas, akubaru sadar. Rupanya aku jatuh pingsan. Kuperhatikan orang-orang di sekitarku. Tampak dua orang petugas kesehatan dan seorang polisi sedang merawatku. Aku langsung memeluk Pak Polisi sambil menangis meraung-raung. Tolong saya, Pak! Saya tak pernah melakukan perbuatan seperti apa yang mereka lakukan.

Febrianto         : Setelah itu?

Doni                : Aku berhenti menangis ketikaa mendengar perkataan Pak Polisi. Tenangkan pikiranmu, Dik. Kami telah mengetahui semuanya. Kesalahanmu hanya satu, yaitu meninggalkan jam pelajaran di sekolah. Jadi, besok pagi kamu akan dibebaskan. Oleh karena itu, dengan pengalaman ini, jangan coba-coba lagi membolos. Itu akan sangat merugikan bahkan dapat mengurangi kepercayaan orang tua terhadap dirimu. Jadi kamu harus hati-hati memilih teman.

Febrianto         : Terus?

Doni                : Semalaman dalam tahanan, bagaikan setahun lamanya. Saat itu, aku membayangkan kalian, Feb. Alangkah enaknya kalian tidur di rumah tanpa memikul beban berat seperti yang aku alami. Betapa hinanya aku ini di mata kalian. Itulah sebabnya aku mulai menyendiri, ditambah lagi dengan tekanan dari orang tua yang semakin membuatku malas sekolah. Aku malu, Feb. ( Sambil menyeka air matanya )

Febrianto         : Don, kuharap engkau bersabar. Besarkanlah hatimu dan jadikanlah peristiwa itu sebagai cambuk untuk memacu diri dalam meraih sukses. Aku dapat merasakan apa yang engkau rasakan. Aku pun kasihan kepadamu.

Doni                : Bagaimana nanti dengan Pak Sukma?

Febrianto         : Baiklah! Jika demikian, kubantu engkau untuk menjelaskan kepada Pak Sukma. Sekarang tenangkanlah hatimu? ( Membujuk )

( Mendengar kata-kata Febrianto, hati Doni menjadi tenang. Setelah itu, mereka pergi

menemui Pak Sukma )

Mereka            : Assalamu alaikum!

Pak Sukma      : Waalaikum salam.

( Mereka masih berdiri di depan pintu )

Pak Sukma      : Ayo, silakan duduk. ( Pak Sukma menyilakan )

( Setelah duduk, Pak Sukam mulai menatap mereka satu per satu. Sesaat kemudian,

suasana menjadi sepi )

Pak Sukma      : Mengapa akhir-akhir ini kehadiranmu sangat kurang, Don. ( Smbil menatapnya )

( Mendengar pertanyaan Pak Sukma, Doni ganti menatap Febrianto, lalu menundukkan

kepalanya. Febrianto paham bahwa itu adalah isyarat agar ia menjelaskan

masalahnya kepada Pak Sukma.

Akhirnya, Febrianto pun mulai menjelaskannya. Mendengar penjelasan Febrianto, Pak

Sukma tampak mengangguk-angguk mengerti. Setelah berpikir sejenak, Pak Sukma

memandang ke arah Doni. Ternyata butiran-butiran air mata telah membasahi pipinya )

Pak Sukma      : Doni. Tataplah bapak!

( Mendengar Pak Sukma memanggil, pelan-pelan Doni mengangkat mukanya )

Doni                : Maafkan saya, Pak. ( Sambil meraih dan mencium tangan Pak Sukma )

Pak Sukma      : Ya! Bapak mengerti dan memakluminya. Bapak berharap kamu bersabar. Jadikanlah semua itu sebagai pelajaran pahit yang tak boleh terulang lagi dan jadikan sebagai sambuk untuk meraih sukses .

Doni                : Ya, Pak . ( Jawabnya pelan )

Pak Sukma      : Doni, perlu engkau ketahui, bukan hanya engkau saja yang pernah mengalami kejadian seperti itu. Banyak orang yang mengalaminya. Bahkan ada di antara meraka yang enjadi sia-sia hidupnya.

Ada pula yang sadar dan bertekad untuk memperbaiki tingkah lakunya. Mereka mematuhi semua tata karma, baik di rumah maupun dalam pergaulan sehari-hari. Kalau sudah demikian mereka dapat menjadi orang yang patut diteladani dan bisa mencapai sukses dalam segala hal. Mana ada orang yang tidak pernah berbuat masalah?

(Doni mengangguk tanda mengerti )

Pak Sukma      : Oleh karena itu, bapak berharap agar kamu melupakan kejadia itu. Tumbuhkan semangat pengabdian yang tulus, terutama kepada kedua orang tuamu, guru-gurumu, maupun kepada sesame manusia. Dengan begitu, kita akan semakin dikasihi dan disayangi. Dan jangan lupa! Setiap tiba waktu salat, salatlah! Selesai salat atau pulang dari bepergian, ciumlah tangan kedua orang tuamu. Sebab itu merupakan salah satu tanda bakti kita kepada mereka. Ingat, engkau belum terlambat untuk melaksanakan nasihat bapak!

Doni                : Ya, Pak. Apa yang bapak katakana, akan saya laksanakan.

Pak Sukma      : Baiklah. Karena sudah siang, segerahlah kalian pulang kerumah. Dan sekalian lagi, jangan lupa nasihat bapak, ya!

( Febrianto dan Doni meninggalkan ruangan Pak Sukma dengan mengingat semua

nasihat yang harus dilaksanakan.

Dalam perjalanan pualang, Doni sempat bertanya kepada Febrianto )

Doni                : Feb, maukah kau belajar bersama di rumahku?

Febrianto         : Dengan senang hati, Don.

( Mereka berpisah menuju rumah masing-masing. Sepanjang jalan menuju ke rumah,

Doni tak habis piker, betapa tulus hati Febrianto  yang mau menolongnya. Ia bertekad

dalam hati, “ Mulai saat ini, Febrianto akan kuanggap sebagai saudara kandung. Aku tak

akan melupakan budi baiknya )

Pesannya         : Kita sebaiknya menjadi seseorang yang terbuka, yang mau bercerita kepada orang lain tentang suatu masalah yang mungkin terjadi pada kita. Karena masalah akan cepat terpecahkan jika kita bercerita kepada orang yang lebih tahu. Karena orang itu mungkin dapat memberikan kita semangat, solusi bahkan saran yang dapat membuat kita dapat tenang dengan masalah yang sedang terjadi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s